Tools
Login

You are here: Home » Suara Hutan » CARA MEMBUAT KOMPOS
Friday, 24 May 2013

CARA MEMBUAT KOMPOS

E-mail Print PDF

CARA MUDAH MEMBUAT KOMPOS DARI

KOTORAN SAPI PERAH, RUMPUT SISA RANSUM,

DAN SERBUK GERGAJI

1. PENDAHULUAN

Peternak menjadi inti dalam proses kehidupan usaha sapi perah, sehingga

semua kegiatan dalam peternakan bertumpu kepada peternak sapi perah. Peran

peternak sapi perah tidak hanya dalam hal menghasilkan susu sebagai suatu produk

yang berharga, tetapi juga kotoran melalui pemeliharaan sapi perah. Peternak

memanfaatkan rumput atau hijauan untuk memelihara sapi perah dengan baik agar

menghasilkan susu sesuai dengan harapan. Selanjutnya, peternak menangani susu

supaya susu tidak cepat rusak. Susu ini harus tidak mengandung bahan atau zat

yang merugikan kesehatan konsumen. Kegiatan peternak sapi perah berikutnya

adalah memanfaatkan kotoran sapi perah. Kotoran sapi perah bernilai uang. Jadi,

kotoran sapi perah tidaklah sepatutnya dibuang begitu saja ke selokan ataupun

tempat lainnya. Kotoran sapi perah digunakan untuk memperoleh gasbio dan

kemudian dimanfaatkan lagi untuk menghasilkan pupuk organik padat dan cair.

Sebagian bagian akhir dari lingkaran produksi tanpa menghasilkan limbah maka

pupuk dipakai untuk memupuk rumput atau tanaman lainnya. Dengan demikian,

peternak sapi perah berperan menjaga kesehatan konsumen dan memelihara

lingkungan saat melaksanakan tugasnya dalam menghasilkan susu. Alur peran

peternak dalam proses produksi dan penangangan limbah tersebut diperlihatkan

pada Ilustrasi 1 berikut.

Ilustrasi 1. Peran Peternak dalam Proses Produksi dan Penanganan Limbah Sapi

Perah

Usaha intensif mengakibatkan limbah bertambah banyak dan memberi peluang

bertambah besarnya polusi lingkungan. Pembuangan cairan kimia dan air kotor,

debu, dan penyebaran bau serta gas. Akan tetapi, bau lebih dominan menimbulkan

masalah dibandingkan komponen lainnya. Polusi seringkali menimbulkan

pertengkaran dengan tetangga. Sudah sepatutnya peternak sapi perah memulai

untuk berproduksi tanpa menimbulkan masalah baru lagi.

Berikut ini ditampilkan cara mudah membuat kompos dalam skala kecil dan

sedang menggunakan kotoran sapi perah dengan serbuk gergaji dan rumput sisa

ransum tanpa menggunakan bahan lainnya. Teknik ini diharapkan dapat diadopsi

oleh peternak dengan mudah tanpa banyak mengeluarkan biaya. Dengan demikian,

mudah-mudahan peternak mendapatkan tambahan pendapatan, ataupun kalau tidak

peternak sapi perah ikut serta dalam menjaga dan memperbaiki lingkungannya

seperti yang telah diatur oleh peraturan daerah dan undang-undang.

2. BAHAN BAKU KOMPOS

Prinsip dasar dari pengomposan adalah mencampur bahan organik kering yang

kaya karbohidrat dengan bahan organik basah yang banyak mengandung N.

Pencampuran kotoran ternak dan karbon kering, misalnya serbuk gergaji, rumput

sisa ransum. atau jerami menghasilkan kompos yang berguna untuk meningkatkan

struktur tanah.

1. Kotoran Sapi Perah

Kotoran sapi perah umumnya banyak mengandung air dan nitrogen (N).

Karena itu, kotoran sapi perlu dicampur dengan bahan lain yang mengandung

tinggi karbon kering. Kompos yang dihasilkan berkualitas baik.

2. Serbuk Gergaji

Serbuk gergaji memiliki kandungan air kering sampai sedang. Sebagai bahan

baku kompos serbuk gergaji bernilai sedang hingga baik walau tidak seluruh

komponen bahan dirombak dengan sempurna. Serbuk gergaji ada yang berasal dari

kayu lunak dan ada pula kayu keras. Kekerasan jenis kayu menentukan lamanya

proses pengomposan karena kandungan lignin didalamnya. Kualitas serbuk gergaji

tergantung pada macam kayu, asal daerah penanaman, dan umur kayu. Makin halus

ukuran partikel serbuk gergaji makin baik daya serap air dan bau yang dimilikinya.

3. Rumput Sisa Ransum

Kandungan air rumput sisa ransum berada pada rentangan kering sampai

sedang. Rumput sisa yang masih panjang sebaiknya dicacah menjadi lebih pendek

agar fermentasi berjalan cepat. Rumput cacah sisa ransum mempunyai peluang

dirombak dengan cepat. Rumput sisa menjadi sumber N yang baik. Dalam proses

pengomposan timbunan dapat menjadi padat dan suasana menjadi anaerobik.

3. TEKNIK PENGOMPOSAN

Teknik pengomposan yang diuraikan dalam hal ini berkaitan dengan peralatan

yang digunakan dan alur kerja, penimbunan bahan baku, dan bagaimana cara

mencampur bahan baku dengan baik agar proses pengomposan memberi hasil

memuaskan.

1. Alat-alat Pengomposan

Alat yang digunakan dalam proses pengomposan skala kecil adalah cangkul,

sekop, kotak atau ruang pengomposan, kantung plastik, dan alat perekat kantung

plastik. Berdasarkan pengalaman, pembuat kompos yang baik dapat mengetahui

kira-kira berapa temperatur kompos saat itu dengan memegang dan meremas

bahan kompos. Berdasarkan hal tersebut, seandainya itu pun ada, termometer

dapat digunakan hanya pada pertama kali pengomposan. Naungan dan tempat yang

tidak dilalui aliran air patut mendapat perhatian dari pembuat kompos. Kantung

plastik dan alat perekatnya digunakan pembuat kompos jika ingin menjual kompos

hasil produksinya dalam bentuk bukan curah.

2. Alur Kerja Pengomposan

Mulai dari penanganan bahan baku sampai dengan penyimpanan kompos

sebelum dijual mempunyai alur kerja pada bahan baku, proses campuran, dan hasil

kompos. Alur kerja secara rinci diuraikan menjadi penyimpanan, penghalusan, dan

pencampuran bahan baku; penumpukan campuran, pengukuran temperatur dan

kelembaban, penghentian proses; dan pematangan, pengayakan, pengeringan,

pengepakan, serta penyimpanan hasil kompos seperti berikut ini.

Ilustrasi 2. Alur Kerja Proses Penanganan Bahan Baku hingga Menjadi

Kompos

Mula-mula bahan baku yang belum digunakan disimpan di tempat aman agar

tidak menimbulkan peluang terjadinya kebakaran. Yang dimaksudkan dengan

penghalusan bahan baku adalah pengurangan ukuran bentuk, misalnya pencacahan

rumput. Pencampuran dan penumpukan bahan baku dapat menjadi satu atau bagian

yang terpisah. Kotoran sapi perah dicampur dengan serbuk gergaji atau rumput sisa

ransum dengan perbandingan volume 1:1 atau 1:2. Pengukuran volume dapat

memakai ember air atau alat tampung lainnya. Bahan baku diaduk atau langsung

ditumpuk berlapis-lapis di tempat pengomposan. Tempat pengomposan mungkin

menggunakan kotak, ember, atau permukaan lahan.

Gambar 1. Pengomposan dapat dikerjakan di atas permukaan lahan atau

dalam kotak.

Tumpukan jangan dipadatkan. Keesokan harinya tumpukan dibalik-balik.

Pengukuran temperatur dan kelembaban dilakukan sebelum pembalikan, terutama

temperatur, jika alat tersedia. Pembalikan dikerjakan tiap hari selama minggu

pertama dan setelah itu dapat dilaksanakan seminggu sekali. Campuran diremas

untuk mengetahui kelembaban. Kelembaban rendah campuran ditandai dengan

tidak adanya bagian bahan baku kompos yang melekat di telapak tangan. Jadi, ke

dalam tumpukan harus ditambahkan air secukupnya. Penghentian proses dihentikan

setelah temperatur stabil dan selanjutnya diikuti oleh proses pematangan. Kompos

dibiarkan di udara terbuka selama seminggu. Setelah itu kompos diayak untuk

memisahkan bagian kasar dan halus. Bagian kasar diikutsertakan lagi dalam

pengomposan berikutnya. Pengomposan selanjutnya mungkin menggunakan

campuran hasil kompos sebanyak 10% dari total bahan baku untuk mempercepat

proses pengomposan. Kompos hasil yang akan dijual dikeringkan, dipak, dan

disimpan.

Gambar 2. Pengayakan Secara Sederhana Hasil Proses Pengomposan.

4. HASIL KOMPOS

Pembuatan kompos mempunyai sangat banyak manfaat, walau tidak terlepas

dari kekurangannya juga. Kegunaan kompos telah sering dibahas pada berbagai

tulisan dan kesempatan. Sementara itu mengetahui kelemahan pengomposan dapat

digunakan untuk mengatasinya. Harga jual kompos berkisar antara Rp500,00-

Rp2.500,00/kg dengan biaya produksi Rp440,00/kg. Berdasarkan harga curah saja

produsen kompos sudah mendapat pendapatan kotor sebesar Rp60,00/kg. Proses

pengemasan membutuhkan biaya sebesar Rp1.000,00/kg dan ternyata usaha ini

menaikkan harga jual kompos dan memberikan pendapatan Rp1.060,00/kg.

Pengomposan membutuhkan biaya untuk membeli, membayar, atau menyewa

lahan, peralatan, tenaga kerja, dan tatalaksana. Pengomposan membutuhkan waktu.

Bau acapkali timbul saat proses pengomposan berlangsung. Bahan baku atau

campuran kompos sebaiknya tidak terkena air hujan. Pengomposan bahan organik

dan menjualnya berarti memindahkan unsur hara dari peternakan ke tempat lain.

Kompos umumnya berbentuk senyawa organik kompleks sehingga lambat

melepaskan unsur hara untuk tanaman. Ada orang-orang yang alergi terhadap bau,

jamur, ataupun debu dari kompos. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang

pengomposan silahkan baca buku Langkah Jitu Membuat Kompos dari

Kotoran Ternak dan Sampah.

(3G)